Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 11 Januari 2011

ETIKA DAKWAH DAN KOMUNIKASI


BAB I
PENDAHULUAN

Sudah merupakan pengetahuan umum dan baku dikalangan muslim bahwa dakwah merupakan bagian penting dan mendasar dari proses penyebaran agama, karena itu, aktivitas dakwah seolah tidak ada putusnya mulai awal perjuangannya hingga dewasa ini, hal ini disamping untuk peringatan juga untuk selalu dijaga dan diperkuat.
Islam adalah agama dakwah artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan dakwah sebab, kemunduran dan kemajuan umat Islam sangat berkaitan erat dengan kegiatan dakwah. Karena itu al-Qur’an menyebut dakwah sebagai ahsanu qawla artinya ucapan dan perbuatan yang baik . Predikat kharu ummah artinya umat yang paling baik dan umat pilihan ini hanya diberikan oleh Allah kepada kelompok yang aktif terlibat dalam kegiatan dakwah.
Karena itu, pertolongan Allah diberikan kepada siapa saja yang patut mendapatkannya seperti posisi, jabatan, pekerjaan dan keahlian apapun diberikan kepada yang selalu mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, dan aktif melakukan amar ma’ruf wa nahi munkar.
Dakwah tidak akan pernah berakhir artinya berakhirnya tugas para nabi dan rusul dengan kematiannya bukan berarti tugas dakwah berhenti sampai di situ tetapi, tugas mulia tersebut berlanjut kepada umat Islam dalam mengemban dan memperjuangkannya.



BAB II
PEMBAHASAN

ETIKA, DAKWAH DAN KOMUNIKASI
A. Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Dakwah secara etimologi (bahasa, lughah) merupakan bentuk isim masdar dari kata da’a yad’u da’watan fahwa da’in yang berarti ajakan, seruan, panggilan pengajak, penyeru, pemanggil kepada kebaikan maupun keburukan. Pelakunya disebut da’i/daiyyah dan objek dakwahnya disebut mad’u.
Diantara makna dakwah secara bahasa adalah :
a. An-nida artinya memanggil da’a fulanun ila fulanah artinya si fulan mengundang si fulanah
b. Menyeru al-ddu’a ila syai’in, artinya menyeru dan mendorong sesuatu.
c. Al-dda’wat ila qadhiyat, artinya menegaskannya dan membelanya, baik terhadap yang hak dan yang batil, yang positif maupun yang negatif.
Dalam ilmu dakwah komponen dakwah terdiri dari da’i, madu, dan pesan dakwah atau materi dakwah. Da’i merupakan bentuk Ism fa’il dari kata dakwah yang berarti pengajak, penyeru/juru dakwah, sedangkan mad’u merupakan bentuk ism maf’ul dari kata da’a yang berarti yang didakwai, yang diberi pesan, khalayak atau sasaran dakwah. Pesan dakwah adalah seluruh materi atau isi dakwah yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u.
Pembahasan dakwah tentang komponen pertama yaitu da’i harus memiliki sifat-sifat yang baik. Jum’ah Abdul Aziz menjelaskan bahwa seorang da’i hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

1. Amanah (terpercaya)
2. Shidiq yang berarti kejujuran dan kebenaran lawan dari kedustaan. Shidq ini kemudian dibagi menjadi lima terdiri dari shidq dalam perkataan, shidq dalam niat dan kehendak yang baik, shidq ’azhm artinya tekad yang benar, shidq dalam menepati janji dan shidq dalam bekerja.
3. Rahman artinya kasih sayang meliputi akidah, syariat, dan akhlaq.
4. Hilmu.
Adapun dakwah menurut istilah memiliki banyak pengertian sebagaimana didefinisikan oleh Quraish Shihab bahwa dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi yang lebih baik dan sempurna baik secara pribadi maupun masyarakat.
M. Arifin dalam bukunya Psikologi Dakwah menjelaskan bahwa dakwah merupakan kegiatan yang bersifat mengajak baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya. Dakwah dilakukan secara sadar dan terencana hal ini karena dakwah bertujuan mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama yang dibawa oleh aparat dakwah.
M. Ali Aziz mengartikan dakwah sebagai upaya untuk mengubah manusia baik individu maupun kolektif dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik.
Dalam Islam dakwah diartikan sebagai mengkomunikasikan pesan-pesan Islam. Dakwah adalah istilah teknis yang pada dasarnya dipahami sebagai upaya untuk menghimbau orang lain kearah Islam karena, dalam dakwah tersebut terdapat penyampaian informasi tentang ajaran Islam berupa ajakan berbuat baik dan larangan berbuat kemungkaran nasihat-nasihat dan pesan, peringatan, pendidikan dan pengajaran dengan segala sifat-sifatnya.
Dari berbagai definisi yang di sebutkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dakwah adalah :
1. Dakwah adalah proses penyampaian agama Islam dari seseorang kepada orang lain.
2. Dakwah adalah penyampaian ajaran Islam tersebut dapat berupa amar-ma’ruf (ajakan kepada kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran).
3. Usaha tersebut dilaksanakan secara sadar dengan tujuan terbentuknya suatu individu atau masyarakat yang taat dan mengamalkan sepenuhnya seluruh ajaran Islam.
Dalam prosesnya dakwah memiliki sifat dasar yang harus selalu dikembangkan dalam rangka mencari keberhasilan. Sifat-sifat dasar itu adalah :

 Dakwah bersifat persuasif bukan koershif.
Dakwah besifat persuasif artinya berusaha mempengaruhi manusia untuk menjalankan agama sesuai dengan kesadaran dan kemauannya sendiri. Tidak boleh dengan jalan koersif (paksaan), sebab pemaksaan adalah perampasan hak asasi manusia dalam beragama. Etika manusia memandang pemaksaan dalam berdakwah merupakan pelanggaran yang esensi dalam diri manusia. Agama memberikan kebebasan kepada manusia maka tidak ada paksaan dalam beragama.
Dakwah menjelaskan kebenaran ajaran Islam kepada manusia mereka diajak berfikir untuk menerima ajaran Allah ini. Hak untuk berfikir adalah milik semua manusia dan tidak seorang manusiapun untuk menolak hal tersebut. Jika manusia menolak ajaran tersebut maka, ia harus dibiarkan atas pilihan sendiri tapi ia harus bertanggung jawab atas keputusan pribadinya tersebut.
Tentulah kaum muslimin harus berusaha secara maksimal tidak pernah berhenti memohon semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayahNya bagi manusia ke jalan kebenaran. Contoh dari kehidupan sendiri adalah komitmen terhadap nilai-nilai dan kenyataan merupakan argumen terakhir. Jika mereka yang bukan Islam juga masih belum menerima maka, yang muslim hendaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt. Rasul sendiri membiarkan orang-orang non-muslim yang tidak menerima dakwah beliau untuk menerima agamanya. Allah selalu memerintahkan nabi untuk mengatakkan ”Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.”
 Dakwah ditunjukan kepada pemeluk Islam dan non-Islam
Dakwah berusaha menyebarkan dan meratakan rahmat Allah bagi seluruh penghuni alam raya. Oleh karena itu, dakwah ditunjukan bagi orang-orang yang beragama Islam untuk meningkatkan kualitas imannya maupun untuk orang-orang non-muslim untuk menerima Islam sebagai agama kebenaran.
Dakwah tidaklah sesuatu yang eksklusif yang ditunjukan pada orang-orang non-muslim. Dakwah Islam bersifat universal. Disamping bergerak dari fakta bahwa manusia dihadapan Allah adalah sama, universalitas dakwah terletak pada identitas untuk mengajak memeluk Islam. Tugas ini tidak pernah lengkap dimiliki individu. Muslim adalah orang yang telah menekadkan dirinya untuk berjalan mengaktualisasikan dirinya pada dakwah. Sedangkan orang-orang yang bukan Islam masih harus menganggap dakwah sebagai suatu yang tidak benar karena, dakwah ditunjukan kepada seorang muslim untuk mengarahkan ke jalan aktual, sedangkan bagi orang non-muslim untuk mengajak orang bergabung sebagai orang yang mengajak kepada ketuhanan yang benar.
 Dakwah adalah anamesis
Anamesis artinya berupaya mengembalikan fitrah manusia, jadi dakwah adalah berusaha mengembalikan manusia kepada sifat aslinya yang suci (fitri), yaitu sifat manusia sejak lahir yang menjadikan secara kodrati menerima kebenaran Islam.
Islam adalah din al-fitrah agama yang sesuai dengan hukum alam yang ada dalam diri manusia, ini adalah bawaan alam yang merupakan unsur pokok bagi kemanusiaan. Manusia yang bukan homo religius dan homo Islamicus adalah bukan manusia. Ini adalah sejarah yang menguatkan kemampuan alam dengan persepsi awal dan intelektualisasi, memperbaiki dan memperkaya atau menghindari dan menyesatkkan dari tujuan alamnya.
 Dakwah bukan pembawa obat-obatan terlarang (psikotrapik)
Dakwah tidak memiliki sasaran lain dengan berhati-hati dan penuh kesanggupan mencoba mencari sesuatu pengakuan atau persetujuan yang ikhlas tentang apa yang diajaknya. Ini berarti juga kesadaran seseorang yang diseru terhadap Islam dilemahkan maka, dakwah yang dilakukan terhadap mereka yang kehilangan kesadaran, kehilangan ta’aqqul, atau mengingat intelektual terhadap fakta dan gagasan untuk membuat suatu kesatuan dan konsisten secara keseluruhan atau suatu pemindahan (transport) emosi dan antusias serangkaian perjalanan bukanlah dakwah Islam. Oleh karena itu, dakwah bukanlah pekerjaan magis, ilusi atau usaha untuk menyenangkan kesenangan atau bentuk-bentuk psikotapea lainnya atas dasar prinsip bahwa dakwah Islam tidak dilakukan dengan psikotrapik maka, mengalihkan agama seorang dengan cara magis, ilusi, mistik atau kimiawi untuk memeluk Islam adalah jahat dan amoral.
 Dakwah adalah rational intellection
Karena dakwah suatu proses kritis dari rasional intelektual berdasarkan sifatnya yang tidak pernah dogmatis, maka tidak pernah didasarkan atas kewenangan seseorang atau suatu tradisi, karena dakwah merupakan alat yang kritis maka ia harus terbuka terhadap bukti-bukti dan realitas yang baru, juga terhadap alternatif baru dan secara terus menerus menyusun dan menyusun lagi bentuk penemuan baru sesuai perkembangan zaman.
Dari sudut objek dakwah proses intelektualisasi hendaklah tidak pernah berhenti. Imannya senantiasa bersikap dinamis dan intensitasnya semakin tumbuh dengan adanya kejernihan pandangan visi dan pemikiran komprehensif. Lebih dari pada itu, memasuki agama Islam bukanlah sakramen dimana sekali ia menyatakan ”ia” menjadi faith accompli. Islam mengetahui tidak ada justifikasi dalam hal keyakinan tentu saja tidak ada justifikasi dalam hal justi fact (perbuatan benar)
 Dakwah adalah rationally necessary
Dakwah Islam menyatakan materi dakwah secara rasional. Ini bukanlah sebuah proklamasi suatu peristiwa atau bukan proklamasi dari kebenaran ide tetapi, dakwah adalah sebuah prestasi atau penyajian penilaian kritis bagi nilai-nilai kebenaran, sebuah proposisi atau sebuah fakta tentang metafisik dan etik serta relevansinya bagi manusia.
Islam mengenal pula orang yang keras kepala setelah mereka diseru kejalan yang benar mereka tetap keras kepala. Maka, Islam tidak akan pernah memaksanya dan membiarkan pilihan sendirinya serta memberikan dan menyerahkan kepada Tuhan sampai Tuhan memberi hidayah (petunjuk ke jalan yang benar). Islam menghargai keputusan dan keinginannya tetapi mereka diharap memberi ketenangan serta tidak mengusik tetangganya untuk mendengarkan dakwah.



B. Etika
1. Pengertian Etika
Berbicara mengenai manusia dan etika kita mengetahui bahwa di lingkungan kita terdapat bermacam-macam karakter orang yang berbeda-beda. Sebagian besar orang memiliki hati yang baik dan selalu mencoba untuk menaati peraturan, akan tetapi, ada beberapa orang jahat yang ingin menyebabkan kekacauan namun, menegakkan tatanan masyarakat yang mulia, adil dan elegan, berwibawa dan bertahan di muka bumi adalah tujuan al-Qur’an.
Pembangunan masyarakat sejatinya terdiri dari individu-individu. Tidak ada individu yang bisa hidup tanpa masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari etika yang baik dalam menjalani karena itu, manusia disebut makhluk sosial artinya tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain. Etika sangat diperlukan dalam melaksanakan dakwah kepada masyarakat karena inti gerakan dakwah adalah merubah masyarakat menjadi lebih baik dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya dalam konsep ‘amar ma’ruf wa nahi munkar.
Kata etika berasal dari kata “ethos” (bahasa Yunani) dalam bahsa Inggris “ethics” yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat (costum). Ethic (bahasa Inggris) berarti etika, tatasusila, Ethical berarti etis, pantas, layak, beradab, susila. Sebagai suatu subyek etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya salah atau benar, buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control“ karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.
Etika dan moral hampir sama pengertiannya tetapi, dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan. Moral atau moralitas digunakan untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Dalam Islam sedikit berbeda dengan akhlak, ini adalah suatu kata yang sering dikaitkan dan diartikan nilai-nilai moral yang tumpuannya adalah ajaran Islam. Jadi istilah akhlak tersebut lebih mengandung unsur islaminya dengan acuan utamanya al-qur’an dan hadist.
Sebagaimana dijelaskan oleh Din Samsudin dalam bukunya Mafri Amir yang berjudul Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam melihat bahwa etika terutama dalam perspektif Islam bisa dipahami secara sempit dan juga secara meluas. Dalam pengertian sempit etika sering dipahami dalam hal-hal yang evaluatif, menilai baik dan buruk tetapi, kalau dikaitkan dengan Islam yang menganjurkan istilah akhlak maka, etika dipahami secara lebih luas tidak hanya sekedar etis dalam pengertian faktor-faktor evaluatif memberikan penilaian tadi, tetapi juga mengandung pengertian etos yakni hal-hal yang bersifat motivatif (mendorong).
Karena itu, akhlak dalam pengertian ini meliputi etik dan etos karena, dipahami secara lebih luas luas. Quraish Shihab menjelaskan bahwa, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.

Istilah lain yang identik dengan etika adalah sebagai berikut :
a) Susila (Sanskerta), lebih menjelaskan dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
b) Akhlak (Arab), berarti moral, adab, etika berarti ilmu akhlak
Adapun pengertian etika menurut beberapa pengamat, tokoh masyarakat, ilmuwan akan penulis cantumkan dimaksudkan agar kita lebih mudah memahaminya seperti :
Ahmad Amin, mendefinisikan bahwa, etika adalah menerangkan bagaimana manusia memahami dan menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dilakukan oleh setengah manunsia kepada selainnya, juga menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Etika disini dipahami sebagai alat penunjuk dan penilai perbuatan manusia.
Hamzah Ya’qub. memahami bahwa, etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Madjid Fahry dalam bukunya Etika Dalam Islam mendefinisikan bahwa, etika adalah gambaran rasional mengenahi hakikat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan bahwa, perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan dan dilarang. Muhammad Sayyid Al-Wakili, mendefinisikan etika berdakwah adalah akhlak yang harus dimiliki oleh para figur publik dan teladan bagi orang-orang yang didakwahi, dengan kriteria orang yang dipercaya kepada apa yang ia dakwahkan, memiliki Qudwah hasanah (keteladanan yang baik) istiqomah, sabar menghadapi berbagai kendala dan penderitaan, lapang dada dan lemah lembut, tawadhu’ (merendah diri) dan zuhud serta tekun berdakwah.
Filusof Aristoteles yang dikutip oleh Budi Munawar Rahman dalam bukunya Etika Nikomacheia menjelaskan membahas tentang etika sebagai berikut
1) Terminius Techicus
Pengertian etika dalam hal ini, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
2) Manner dan Custom
Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (Inherent in Human nature) yang terikat dengan pengertian “baik” dan “buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Selanjutnya Komarudin Hidayat menyimpulkan bahwa etika adalah usaha dengan akal dan budinya untuk menyusun teori mengenahi penyelenggaraan hidup yang baik. Persoalan etika muncul ketika seseorang atau masyarakat kritis. Moralitas berkenaan dengan tingkah laku yang konkrit sedangkan etika bekerja dengan level teori.
Jaudat Sa’id memahami etika sebagai hasil ukuran yang dilandasi kesadaran bukan anugrah ilahi. . Abu A’la Al-Maududi mengartikan etika sebagai alat untuk membedakan mana yang baik dan buruk, yang benar yang salah. Bagaimana alat mengetahui tindakan yang terpuji dan tindakan yang tercela.
Pengertian dan definisi etika dari para pakar dan ahli tersebut diatas berbeda-beda pokok perhatiannya, antara lain:

a) Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak. (the principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
b) Pedoman perilaku yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognice in respect to a particular class of human actoin)
c) Ilmu watak manusia yang ideal dan prinsip-prinsip moral sebagai individu. (The scienc of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
d)Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban. (The science of duty)
Berkaitan dengan definisi atau pendapat para tokoh tersebut diatas tentang etika, dapat ditarik kesimpulan bahwa etika adalah hubungan dengan perbuatan seseorang yang menimbulkan penilaian dari pihak lainnya akan baik-buruknya perbuatan yang bersangkutan.
Etika disebut juga filsafat moral merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang tindakan manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma, diantaranya norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, norma moral berasal dari suara hati dan norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari.

Menurut Komarudin etika sebagai cabang filsafat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Objektifisme
b. Subjektifisme.
 Objektifisme dimaknai bahwa nilai kebaikan suatu tindakan bersifat obyektif maksudnya terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan faham rasionalisme dalam etika. Suatu tindakan dikatakan baik bukan karena kita senang melakukannya atau sejalan dengan kehendak kita atau masyarakat melainkan semata keputusan rasional yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh aliran ini adalah Imanuel Kant sedangkan dalam aliran Islam dalam berbagai batas dalam Mu’tazilah.
 Subjektifisme berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan kehendak atau perimbangan subjek tertentu. Di sini berupa subjektifitas. Subjektif disini berupa subjektifitas kolektif yaitu masyarakat.

2. Sistimatika Etika
Secara umum etika dapat dibedakan menjadi dua bagian, pertama etika umum yaitu etika yang membahas kondisi dasar bagaimana manusia bertindak etis, dalam mengambil keputusan etis, dan teori etika serta mengacu pada prinsip moral dasar yang menjadi pegangan dalam bertindak serta tolak ukur dan pedoman untuk menilai “baik dan buruknya” suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang. Etika umum tersebut dianalogikan dengan ilmu pengetahuan, doktrin, dan ajaran yang membahas pengertian umum dan teori etika.
Kedua etika khusus, yaitu penerapan prinsip-prinsip moral dasar, dalam bidang khusus, yaitu bagaimana mengambil keputusan dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari pada proses dan fungsional suatu organisasi, atau bisa juga sebagai seorang profesional yang bertindak etis berlandaskan pada teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar.
Etika khusus tidak terlepas dari sistem nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan publik dan masyarakat, seperti; berpedoman pada nilai kebudayaan, adat istiadat, moral dasar, kesusilaan, pandangan hidup, kependidikan, kepercayaan, hingga nilai-nilai kepercayaan yang dianut.
Etika khusus tersebut dibagi lagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
a) Etika individual menyangkut kewajiban dan perilaku manusia terhadap dirinya sendiri untuk mencapai kesucian kehidupan pribadi, kebersihan hati nurani, dan yang berahlak luhur (akhlakul karimah)
b) Etika sosial berbicara mengenahi kewajiban, sikap, dan perilaku sebagai anggota masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai sopan santun, tata-krama dan saling menghormati yaitu bagaimana saling berinteraksi yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara perorangan dan langsung, maupun secara bersama-sama atau kelompoki dalam bentuk kelembagaan masyarakat dan organisasi formal lainnya.
C. Komunikasi
Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah proses social, maksudnya adalah komunikasi selalu melibatkan manusia dalam berinteraksi. Artinya komunikasi selalu melibatkan pengirim dan penerima yang memainkan peranan penting dalam proses komuniksi. Ketika komunikasi dipandang secara social, komunikasi selalu melibatkan dua orang atau lebih yang berinteraksi dengan berbagai niat, motipasi dan kemampuan. Komunikasi sebagai proses berarti komunikasi bersifat terus menerus berkesinambungan dan tidak memiliki akhir. Komunikasi juga dinamis, kompleks dan senantiasa berubah.
Unsur-unsur komunikasi yaitu:
 Source (sumber)
 Communicator (pengirim pesan)
 Comumunicate (pesan)
 Channel (saluran atau media)
 Communicant (penerima pesan)
 Effect (hasil)

 Hubungan Etika dalam aktifitas Dakwah Dan Komunikasi
Rasul adalah sebagai contoh dan sumber etika. Sumber etika dan ahlak rasul adalah al-Qur’an nabi sehingga ketika istri nabi ditanya ”Apa akhlaq nabi”?. Istri nabi menjawab : ”Akhlak nabi adalah al-Qur’an”. Al-Quran adalah kitab dakwah di dalamnya Allah menerangkan segala yang diperlukan oleh manusia termasuk didalamnya adalah etika dakwah itu sendiri.
Akhlak berkaitan erat dengan moral, sebagai sumber moral al-Qur’an memiliki kandungan yang menjelaskan kriteria baik-buruknya sesuatu perbuatan. Sesudah Al-Qur’an kemudian sunnah. Kedua dasar itulah yang menjadi landasan atau sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yang baik dan buruk di dalam berkomunikasi untuk menjalankan aktifitas dakwah.
Seseorang yang mempunyai Etika yang baik apa bila ia berdakwah ia akan berkomunikasi dengan mad’u nya secara baik pula dengan penyampaian sesuai situasi dan kondisi mad’u, lingkungan, dan keadaan sekitar area dakwahnya.
Oleh karena itu etika sangat penting dalam proses aktifitas dakwah dan komunikasi. Sebab etika adalah standar nilai-nilai yang harus dijadikan acuan dalam berbuat, bertindak dan berperilaku. Secara sederhana orang yang tidak memahami dan mematuhi aturan yang berlaku dinilai tidak mempunyai etika dalam tindak tanduknya. Sebaliknya orang yang senantiasa tunduk kepada norma yang berlaku dapat dikatakan orang yang mempunyai etika. Tanpa ada suatu komunikasi yang baik dalam berdakwah maka seseorang itu dinyatakan tidak mempunyai etika yang cukup baik pula. Seorang pendakwah terlebih dahulu harus mempunyai etika yang baik dan komunikasi yang baik pula sebagai pendukungnya.















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Etika
Yang dimaksud etika adalah tingkah laku, tata karama, sopan santun. atau norma dan asas yang diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sedangkan yang dimaksud etika disini adalah sopan santun/perilaku bagaimana dakwah dilakukan sesuai dengan konsep yang terkandung dalam al-Qur’an.
2. Dakwah
Dakwah secara etimologi (bahasa, lughah) merupakan bentuk isim masdar dari kata da’a yad’u da’watan fahwa da’in yang berarti ajakan, seruan, panggilan pengajak, penyeru, pemanggil, kepada kebaikan maupun keburukan. Pelakunya disebut da’i/daiyyah dan objek dakwahnya disebut mad’u.
3. Komunikasi
Komunikasi secara garis besar diartikan sebagai konsep transaksional, saling memberi dan saling menerima. Tujuan yang hendak dicapai adalah komunikasi yang efektif dan efisien.

0 komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget